Meneladani sepenggal kisah imam syafi’i



           Meneladani sepenggal kisah imam syafi’i


Membiasakan diri untuk berfikir positif, dan berbaik sangka
Kepada orang lain (Husnu zhon) bukanlah suatu perkara
yang mudah, terlebih bagi kita yang hidup di akhir zaman ini
Yang kelihatan secara zohir baik belum tentu baik, dan yang
Kelihatan secara zohir tidak baikpun belum tentu itu buruk
Mungkin ini bagian dari sunnatullah.

Ada sepenggal kisah yang sangat menarik antara dua orang
Ulama besar yang merupakan sahabat,mereka adalah imam
Syafi’i dan imam Ahmad Ibn Hambal semoga kita dapat
mengambil Pelajaran dari kisah mereka, suatu ketika tatkala
Imam Syafi’i bertamu dan menginap di rumah Imam
Ahmad Ibn Hambal,  Beliau Imam Ahmad mempunyai
seorang putri yang shalihah, tak pernah tertinggal
malamnya selalu beribadah, ketika siang harinya
berpuasa, serta sangat menyukai kisah orang-orang
shalih dan orang-orang pilihan untuk menjadi motivasi
kehidupannya.

Sudah sejak lama putri beliau ini ingin sekali melihat
sosok lmam Syafi’i secara langsung, karena sang
Bapak banyak bercerita tentangnya dan sangat
menghormatinya.

Tatkala pada suatu hari Imam Syafi’i berkunjung
ke rumah mereka, sang putri sangat senang dan
bahagia, berharap bisa melihat apa saja yang dikerjakan
oleh Imam Syafi’i serta ingin mendengar butiran-butiran
mutiara hikmah yang disampaikannya.

Seusai makan malam bersama, Imam Ahmad menuju
tempat shalat untuk melakukan shalat dan berdzikir,
Imam Syafi’I pun tiduran sambil terlentang, sedangkan
sang putri selalu mengamati dan memperhatikan apa
saja yang dilakukan Imam Syafi’i hingga fajar. Tatkala pagi
hari, sang putri bertanya kepada bapaknya : Wahai bapakku,
Apakah benar beliau ini Imam Syafi’i yang sering engkau
ceritakan kepadaku dulu?

Imam Ahmad menjawab: Benar putriku.

Putri: saya mendengar bahwa engkau sangat menghormati
           Imam Syafi’i, tapi apa yang sudah saya lihat semalam
           beliau tidak bangun malam, tidak pula saya lihat dia
           berdzikir atau wirid? dan aku juga melihat ada beberapa
           hal yang mengherankan.

Imam Ahmad:  Apa saja yang menjadikanmu heran wahai putriku?

Putri: Tatkala kita menyajikankan makanan kepada Imam Syafi’i,
           beliau memakannya dengan sangat lahap dan banyak sekali.
           Ini berbeda dengan yang ku dengar, ketika beliau masuk
           kamar, beliau tidak bangun untuk melakukan shalat malam,
           dan tatkala shalat subuh bersama kita, beliau shalat
           tanpa berwudhu terlebih dahulu!!!.

Demikianlah perbincangan antara bapak dan anak dan ketika
sudah mulai agak siang, merekapun berbincang-bincang
ringan dengan imam Syafi’i sehingga sampailah pada
pertanyaan putrinya tadi, Imam Ahmad bertanya kepada
Imam Syafi’i tentang apa yang dilihat oleh putrinya tadi
malam, lalu Imam Syafi’i menjawab:

Wahai sahabatku Ahmad Ibn Hambal, saya memang
semalam lahap dan banyak makan karena saya tahu
dan yakin bahwa makananmu adalah makanan halal
dan engkau adalah orang mulia, makanan dari orang
yang mulia adalah obat. Sedangkan makanan dari
orang bakhil adalah penyakit. Jadi, aku makan bukan
untuk mengenyangkan perutku tapi untuk berobat
dengan makananmu ujar Imam Syafi’i.


Memang benar semalam saya tidak mendirikan shalat
malam, hal itu dikarenakan tatkala saya melatakkan
kepala saya untuk tidur. Saya melihat seakan-akan
Al-Qur’an dan al-Hadits berada di hadapan saya,
kemudian Allah membukakan kepadaku 72 permasalahan
Ilmu Fiqih (permasalahan hukum islam) yang  saya susun
untuk kemaslahatan umat Islam, maka memikirkan ilmu
inilah yang yang menjadi penghalang antara saya dan
shalat malam, demikianlah Imam Syafi’i menjelaskannya.

Imam Syafi’i kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa
Benar tatkala shalat subuh bersama dia tidak berwudhu,
maka demi Allah katanya tidaklah kedua mataku ini tertidur
hingga aku butuh memperbaharui wudhu (diriwayatkan bahwa
beliau senantiasa menjaga wudhunya). Semalam suntuk aku
terjaga, jadi aku shalat subuh bersama kalian dengan wudhu
sholat ‘Isya.

Usai bercerita panjang lebar Imam Syafi’i berpamitan
untuk pulang. Kemudian Imam Ahmad Ibn Hambal
berkata kepada putrinya: Apa yang dikerjakan oleh
Imam Syafi’i semalam dalam keadaan tiduran,
lebih utama daripada apa yang saya kerjakan
sambil shalat malam.

Imam Ahmad melanjutkan: Tidaklah saya shalat selama
40 tahun, kecuali senantiasa mendo’akan Imam Syafi’i
dalam untaian do’aku. Anaknya kemudin bertanya,
siapa itu Imam Syafi’i, beliau menjawab Imam Syafi’i itu
adalah Matahari Dunia (Cahaya Bumi) dan senantiasa
menjadi solusi bagi umat.

Semoga Allah menjaga kita semuanya dan semoga
kisah-kisah para ulama menjadi inspirasi kehidupan
kita Aamien Allahumma Aamien.


Komentar

ARTIKEL POPULER

belajar istinja'

SHALAT PERUKUNAN MELAYU

sudahkah anda berwudhu

menghidupkan malam dengan shalat tahajjud

4 MAZHAB ISLAM

Mari mencintai para habaib

TOLONG BAWA AKU KE SURGA, KAWANKU

mari shalat istikharah

menjemput rezeki dengan shalat dhuha